Studi Ungkap Puasa Intermiten Tak Bantu Turunkan Berat Badan

Sebuah studi dari Amerika Serikat mengungkapkan bahwa puasa intermiten tak membantu menurunkan berat badan secara signifikan.

Jakarta, CNN Indonesia

Read More

Sebuah studi dari Amerika Serikat mengungkap bahwa puasa intermiten tak membantu menurunkan berat badan.

Puasa intermiten merupakan metode untuk membatasi waktu makan. Beberapa mengartikan puasa ini yakni makan seperti biasa selama beberapa hari dalam sepekan, dan berpuasa di hari lain.

Penelitian yang dirilis di Journal of American Heart Association pada pekan lalu menyebutkan waktu makan mungkin tak berdampak signifikan terhadap berat badan seperti asumsi sebelumnya.

Studi itu melacak data kesehatan, berat badan, porsi makan, dan waktu makan dari 547 orang selama enam tahun.

Hasil penelitian menunjukkan tak ada hubungan interval waktu makan dan berat badan para koresponden.

Peneliti sekaligus profesor kedokteran di divisi penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins, Wendy Bennet, mengaku tak menemukan hubungan antara membatasi makan dengan penurunan berat badan.

Ia juga tak menemukan dampak penurunan berat badan terhadap berapa lama orang makan setelah bangun tidur dan jarak mereka makan dengan waktu tidur.

Sebaliknya, menurut Bennet, makanan kecil berkaitan dengan penurunan berat badan.

“Berdasarkan penelitian lain yang dirilis, termasuk penelitian kami, kami mulai menilai bahwa waktu makan sepanjang hari kemungkinan besar tak langsung menghasilkan penurunan berat badan,” kata Bennett, seperti dikutip CNN, Jumat (20/1).

Ia kemudian memperingatkan bahwa bagi sebagian orang, mengatur waktu makan mungkin menjadi metode berguna untuk melacak nutrisi.

Bennet juga mengatakan studi tersebut bersifat observasional. Artinya, para peneliti melihat pola yang ada sebagai dasar penelitian alih-alih membuat perubahan tertentu.

Namun, para ahli memperingatkan hasil penelitian tersebut harus direspons dengan skeptis.

Keterbatasan studi

Profesor dari Harvard Medical School Fatima Cody Stanford mengatakan penelitian itu memang melibatkan beberapa ras dan etnis minoritas.

Namun, ia juga menyarankan standar sosial kesehatan seperti stres dan lingkungan masyarakat bisa ditambahkan dalam data.

Faktor-faktor itu menjadi penting untuk melihat efek waktu makan dengan lebih baik.

“Saya curiga jika mereka melihat lebih dekat ke data, akan ada subkelompok [yang mana waktu makan] mungkin berdampak signifikan,” jelas profesor ilmu gizi dan kebijakan dari Universitas Tufts, Alice Lichtenstein.

Lichtenstein mengatakan tidak ada satu strategi yang berhasil bagi semua orang terkait nutrisi, dan kualitas makanan juga penting.

“Jika Anda berusaha mengonsumsi makanan yang sehat, Anda berusaha aktif secara fisik, Anda cenderung tak menderita diabetes, penyakit ginjal kronis, penyakit paru obstruktif, dan hipertensi,” ujar dia lagi.

Pakar kesehatan tersebut tak menampik saran semacam itu membosankan dan tak ingin didengar siapa pun.

Namun, ia menggarisbawahi tak ada jalan keluar selain mengonsumsi buah, sayuran dan melakukan aktivitas fisik untuk membuat tubuh lebih sehat serta nutrisi terpenuhi.

Puasa intermiten atau singkatnya membatasi waktu makan menjadi metode populer untuk menurunkan berat badan dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi sebagian orang, mencoba puasa intermiten bisa menjadi cara yang membantu mereka membatasi kalori dalam tubuh.

Namun, cara itu tak bisa diterapkan ke semua orang.

Menurut pakar kesehatan setiap orang harus memahami tubuhnya sendiri, dan berkonsultasi dengan dokter apa yang harus dikonsumsi tanpa stress dan malu.

(isa/pmg)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts