Saatnya Perempuan Bersuara untuk Masa Depan

Tradisi sunat perempuan tak cuma ada di Indonesia, tapi juga menjadi bagian dari budaya di berbagai negara.


Read More

Jakarta, CNN Indonesia

Tanggal 6 Februari diperingati sebagai Hari Anti Sunat Perempuan Internasional. Peringatan ini memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk menghentikan aksi female genital mutilation (FGM) yang praktiknya masih terjadi di beberapa negara.

Hari Anti Sunat Perempuan merupakan inisiasi Perserikatan Bangsa-bangsa pada 2012 lalu. Peringatannya sendiri diumumkan oleh Majelis Umum PBB, yang bertujuan untuk memperkuat dan mengarahkan upaya penghapusan praktik sunat perempuan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah melakukan berbagai upaya untuk menghentikan praktik ini.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sunat perempuan disebut-sebut sebagai salah satu kekerasan seksual dan telah membuat banyak wanita mengalami trauma. WHO bahkan berupaya agar di tahun 2030 mendatang, pelaksanaan sunat perempuan di negara mana pun benar-benar ditiadakan.

Tahun ini, peringatan Hari Anti Sunat Perempuan mengambil tema “Her Voice, Her Future”. Peringatan kali ini menyoroti pentingnya masa depan perempuan.

Sunat atau mutilasi alat genitalia perempuan mencakup semua prosedur mengubah hingga melukai alat kelamin wanita tanpa alasan medis. Tindakan ini telah diakui secara internasional sebagai pelanggaran HAM, kesehatan, dan integritas perempuan.

Banyak komplikasi yang bisa dialami wanita yang disunat, mulai dari nyeri hebat, pendarahan, infeksi, kesulitan buang air kecil, hingga kesehatan mental.

Lebih dari 200 juta perempuan yang hidup saat ini telah mengalami mutilasi atau sunat. Tahun ini, hampir 4,4 juta anak perempuan berisiko terkena praktik berbahaya ini, yang setara dengan lebih dari 12 ribu kasus setiap hari.

Untuk mendorong penghapusan sunat perempuan, diperlukan upaya yang terkoordinasi dan sistematis.Upaya tersebut harus melibatkan seluruh masyarakat dan fokus pada hak asasi manusia, kesetaraan gender, pendidikan seksual, dan perhatian terhadap kebutuhan perempuan dan anak perempuan yang terdampak.

(tst/asr)



Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts