Mengintip Rupa Tenun di Tangan 15 Desainer dan Jenama Tanah Air

Sebanyak 15 desainer dan jenama tanah air memamerkan kreasinya dengan tenun di gelaran Langgam 15 yakni perayaan 15 tahun Cita Tenun Indonesia (CTI).

Jakarta, CNN Indonesia

Read More

Tenun semakin indah saat berada di tangan yang tepat. Sebanyak 15 desainer dan jenama tanah air memamerkan kreasinya dengan tenun di gelaran Langgam 15 yakni perayaan 15 tahun Cita Tenun Indonesia (CTI).

CTI, organisasi nirlaba pencinta tenun, telah berusia 15 tahun. Dalam puncak perayaan hari jadinya, sebanyak 15 desainer dan jenama digandeng untuk menunjukkan kreasi mereka dengan tenun. Tenun-tenun yang digunakan merupakan tenun hasil program binaan dan pengembangan CTI di berbagai wilayah di Indonesia.

Ada pun desainer dan jenama yang turut ambil bagian dalam gelaran ini yakni, Priyo Oktaviano, Wilsen Willim, Eridani, Danjyo Hiyoji, Auguste Soesastro, Didi Budiardjo, Koyko, Sebastian Gunawan, Chossy Latu, Ari Seputra, Denny Wirawan, Mel Ahyar, Era Soekamto, Danny Satriadi, dan Yogie Pratama.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tenun Sambas

Sambas, Kalimantan Barat menyimpan keindahan tenun khasnya. Didi Budiardjo bermain dengan tenun Lunggi atau songket Sambas. Sebanyak dua look busana memiliki warna dominan warna salmon dan benang-benang emas yang membentuk motif flora. Dengan siluet Atasan lengan panjang dan dress, tenun pun terlihat modern dan elegan.

Sementara Auguste Soesastro menggunakan tenun cual atau ikat lungsi Sambas. Tetap pada ciri khasnya, ia menghadirkan busana ‘clean cut’ dengan siluet blazer, celana panjang dan tunik dengan potongan ‘mules’ yang lembut tapi tetap kokoh.

Tenun ikat Garut

Di tangan Sebastian Gunawan, tenun ikat Garut berubah jadi look busana bernuansa Eropa. Ia membawakan dua look berupa midi dress dan A-line dress. Penggunaan material lace untuk melapisi tenun rupanya tidak membuat tenun berwarna kuning cerah ini tidak kehilangan pesonanya.

Tenun dari Sumatera

Chossy Latu dan Eridani dengan jenama Eri didapuk untuk mengelola tenun dari Sumatera.

Chossy menggunakan tenun songket Halaban dari Sumatera Barat. Songket berwarna hijau dan biru disulap jadi outer dengan aksen fringe putih. Untuk mengimbangi gemerlap songket, ia memadukannya dengan bawahan beraksen ‘bling-bling’.

Kemudian Eridani menyusul dengan kreasi tenun songket Palembang, Sumatera Selatan. Songket pun diolah atasan dan outer. Warnanya yang begitu tajam yakni coklat, biru, dan ungu mampu menghadirkan karakter busana yang berani.

Tenun dari Sulawesi

Terbang ke Sulawesi ada desainer Danny Satriadi dan Yogie Pratama. Danny mengelola tenun Sobi dari Sulawesi Tenggara, sementara Yogie bereksperimen dengan tenun Sobi dari Sengkang, Sulawesi Selatan.

Meski sama-sama tenun Sobi, karakter keduanya jauh berbeda. Tenun Sobi dari Sulteng lebih berwarna di mana Danny menggunakan tenun berwarna coklat-hijau dan terakota. Dengan siluet luaran, ia membuat motif tenun makin menonjol berkat aksen manik dan batuan.

Sementara itu, Yogie mengolah tenun Sobi dari Sengkang dengan warna dasar hitam dan motif warna-warni berukuran mini. Namun dengan look berupa tube dress panjang, tenun kian elegan.




Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts