Mengapa Nafsu Makan Meningkat saat Makan Bareng Teman?

Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta ke-496 sudah di depan mata. Nikmati sejumlah diskon promo HUT Jakarta 2023 berikut ini.


Read More

Jakarta, CNN Indonesia

Makan bersama teman atau orang-orang terdekat ternyata bisa bikin nafsu makan meningkat. Kok bisa? Dokter pun memberikan penjelasannya.

Ketika makan sendiri, ada kecenderungan makan kurang bersemangat dan mencari ‘teman’ dengan menonton video via ponsel. Sebaliknya, makan bersama teman atau orang terdekat membuat makan lebih bersemangat. Bukan tak mungkin bahkan jika porsi yang dikonsumsi jadi lebih banyak.

Ray Wagiu Basrowi, peneliti sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC) menjelaskan, manusia adalah makhluk sosial yang suka berkumpul. Dia menyebut, ada riset yang membuktikan bahwa makan bersama mampu menurunkan hormon stres.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Saat makan bersama, jadi lebih menikmati, enzim [pencernaan] keluar maksimal kalau lagi happy. Pencernaan jadi lebih bagus, [makan] lebih banyak,” kata Ray di sela temu media di restoran Beautika, Jakarta Selatan, Rabu (24/1).

Selain itu, lanjut dia, orang akan cenderung mengikuti orang yang makan makanan sehat. Ray memberikan contoh, ketika suasana nonton bareng (nobar), satu orang memutuskan makan buah potong untuk camilan, hal ini akan diikuti yang lain.

“Ketika kita berkomunal, berkumpul, perilaku yang baik memengaruhi perilaku komunitas,” imbuhnya.

Makan bersama rupanya termasuk dalam metode communal mindful eating. Metode ini adalah metode paling tepat untuk memaksimalkan dampak pola makan yang baik.

Mindful eating merupakan perilaku makan yang penuh perhatian dan kesadaran bahwa makan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan nutrisi. Meski diselingi obrolan, rupanya makan bersama bisa membantu seseorang untuk menumbuhkan perilaku mindful eating.

Dalam riset yang dirilis HCC baru-baru ini, sebanyak 47 persen orang Indonesia masih menerapkan perilaku emotional eating.

Emotional eating ini menjadikan makan dan ritual makan bukan untuk menikmati zat gizi di makanan. Proses makan itu bagian dari kompensasi emosi, bisa stres, marah,” jelas Ray.

Temuan dari riset menunjukkan, para emotional eater berisiko dua kali lipat mengalami stres. Risiko ini pun lebih tinggi pada emotional eater yang sedang sebesar 2,5 kali lipat.

Di samping itu, perilaku emotional eating membuat proses pencernaan makanan kurang optimal. Hal ini juga bisa berujung pada asupan nutrisi yang tidak sempurna.

“Makanan sudah padat gizi, pas makan [kondisi] emosional, enzim jadi enggak keluar optimal,” kata Ray.

(els/asr)

[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts