KPI Akan Beri Sanksi Konten LGBT di OTT dan Medsos?

Ilustrasi sosial media

VIVA Showbiz – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengatakan, siap mengawasi dan beri sanksi kepada konten LGBT di aplikasi OTT (Over The Top) dan media sosial. Hal tersebut disampaikan oleh Calon Anggota KPI Pusat Periode 2022-2025, Ahmad Alhafiz saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Komisi I DPR, baru-baru ini.

Dia siap melakukan teguran terhadap TV atau radio yang menyiarkan konten lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Menurutnya, KPI harus tegak lurus terhadap Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), jika peraturan siaran TV ataupun radio melanggar aturan-aturan di luar itu termasuk LGBT, maka harus ditegur, termasuk juga platform OTT yang memunculkan simbol LGBT. Scroll selanjutnya.

“Termasuk juga yang lagi disoroti di OTT yang sekarang muncul beberapa simbol LGBT. Tentu ini belum ada sub wilayah KPI, ke depannya ini menjadi tantangan bagi KPI juga sehingga bisa menjaga nilai budaya Indonesia ini, bukan hanya di penyiaran terestrial saja, tapi juga di internet,” katanya.

Ilustrasi aktivitas di medsos

Ilustrasi aktivitas di medsos

Hal itu disampaikan sebagai visi misinya. Meski demikian, ini baru dapat dilakukan jika definisi,  kewenangan dan area tugas KPI diubah dalam revisi UU Penyiaran. 

“Sesuai dengan amanat undang-undang ketika direvisi nanti, KPI harus siap untuk mengawasi nonterestrial. Tentunya, banyak yang harus diatur, salah satunya adalah P3SPS yang dapat memayungi seluruh platform yang ada, baik TV, radio seperti sekarang ini namun juga OTT, sosial media,” ujarnya.

Menurutnya juga, aturan itu harus mengatur bagaimana OTT itu harus berizin di Indonesia, mengatur siaran di medsos, syarat adanya perwakilan medsos di Indonesia, juga membuat kesepakatan atau guidelines bersama. Sehingga, jika diamanatkan, maka KPI harus siap mengawasi dengan teknologi yang lebih canggih.

Halaman Selanjutnya

“Setelah diatur, KPI harus siap mengawasi konten-konten tersebut, salah satunya adalah pemanfaatan teknologi informasi yang lebih canggih lagi daripada yang dimiliki KPI saat ini,” ujarnya.

img_title

Sumber: www.viva.co.id

Related posts