Impian Masa Kecil Louis Vuitton di Tengah Teriakan Fans J-Hope BTS

Di halaman Louvre, diiringi dengan teriakan ratusan fans yang menanti hadirnya J-Hope BTS, Louis Vuitton menampilkan koleksi lini pria untuk musim dingin 2023.

Paris, CNN Indonesia

Sejak lebih dari satu dekade, lini pakaian pria dari label Louis Vuitton menjadi salah satu kompas gaya busana pria. 

Read More

Semua ini dimulai dari saat Kim Jones mengambil alih posisi direktur kreatif dari Paul Herbers, yang dilanjutkan dengan delapan koleksi karya Virgil Abloh yang sangat berpengaruh dan tak jarang kontroversial.

Itulah kenapa, sejak sepeninggal Virgil, banyak yang bertanya bagaimana kelanjutan koleksi pria dari rumah mode ini.

Setelah minggu lalu, Michael Burke, yang saat itu menjabat sebagai CEO LV membeberkan keterlibatan Colm Dillane dari KidSuper, Louis Vuitton menjadi salah satu show ‘terpanas’ dan paling ditunggu.

Tak dimungkiri, KidSuper sempat menghebohkan dunia fashion lantaran dirumorkan jadi ‘pengganti’ Virgil Abloh di LV.

Berlokasi di halaman Museum Louvre, tak jauh dari studio menswear di area Pont Neuf, diiringi dengan teriakan ratusan fans yang menanti hadirnya salah satu personel boyband Korea BTS J-Hope, Louis Vuitton menampilkan koleksi lini pria untuk musim dingin 2023.

Secara resmi, koleksi ini diciptakan oleh Louis Vuitton Studio Prêt-à-Porter Homme, terdiri dari sederet nama-nama yang dikenal di industri fesyen dan seni, namun mungkin kurang dikenal publik: Ibrahim Kamara, stylist extraordinaire asal Sierra Leone pemred majalah Dazed.

Selain itu ada juga Michel Gondry dan Olivier Gondry, sineas Prancis yang terkenal dengan inovasi visual Gondry-esque mereka; Lina Kutsovskaya, direktur kreatif Be Good Studio dan Barneys New York; dan tentu saja, Colm Dillane, pendiri label KidSuper asal Brooklyn, New York.

Soundtrack untuk show kali ini menampilkan pertunjukan langsung artis Spanyol pemenang Grammy Rosalía, yang menjadi fenomena di dunia musik yang juga bertugas sebagai kurator musik.

Colm Dillane dan timnya mengusung ide Upcycling. Mereka tidak hanya berfokus pada material, tetapi juga ide dan elemen-elemen storytelling yang dibangun oleh Virgil Abloh, seperti proses pencarian jati diri dan style establishment yang memiliki unsur bongkar-pasang dan uji coba.

Pemikiran tersebut tercermin dalam motif, teknik, dan fabrikasi di seluruh proses penjahitan, tercermin dalam kreasi pakaian formal dan pakaian luar yang merujuk pada TV, film, dunia maya, layar, dan kamera.

Ini terwujud dalam desain ilusi seperti pola crypto yang menyerupai kode terenkripsi, dalam sulaman layaknya halusinasi yang dibuat dengan mutiara dan payet, atau motif apel yang tampak berpiksel buram dan dikelilingi oleh white noise seperti layar kaca televisi tabung.

Hasilnya, setelan tanpa lapel dengan boxy shoulder, rompi yang bersiluet Bar, mantel cokelat dengan motif apel warna-warni dengan efek seperti sapuan kuas di atas kanvas. 

Setelan jas dengan lengan ekstra yang diikatkan di bagian pinggang, mantel dengan motif dotty intarsia berbentuk mata yang dibuat dari fil-chenille – kesemuanya menyiratkan konsep paradolia, yakni kecenderungan untuk mengaitkan bentuk sebuah obyek dengan simbol familiar seperti bentuk wajah atau siluet binatang.

Corak yang dipilih tampak seperti fantasi masa kecil (yang juga tergambar dari dekor yang dipenuhi pernak-pernik kamar anak-anak) serta slogan-slogan ‘Fantastic Imagination’ atau ‘blurry vision of a bright future‘ mengingatkan pada kreasi Virgil yang tidak hanya kuat secara visual namun juga secara linguistik.


Foto: AP/Thibault Camus
Louis Vuitton show

Beberapa item terlihat cheeky, misalnya Freezer bags – tas trompe l’oeil yang tampak seperti di dalam tas yang lain, atau sepasang sepatu bot kulit dengan motif tambal sulam. Sebuah eksperimen yang berani.

Usai show, Colm Dillane mengungkapkan bagaimana ketika ia diberi kebebasannya dalam berekspresi untuk rumah mode sebesar Louis Vuitton, hal itu justru membuatnya lebih kreatif.

“Dengan kolaborasi, keterlibatan banyak orang-orang kreatif, sesuatu yang luar biasa bisa tercipta. Dan tentu saja, inovasi. Sesuatu yang terasa familiar namun tetap terlihat baru”, ungkapnya kepada CNN Indonesia.

Dengan serbuan banyak penggemar yang meminta swafoto, ia “merasa seperti anggota BTS”, pungkasnya.

Terlihat sangat variatif, dengan gabungan yang kompleks dan seimbang antara sophisticated tailoring dan pesona streetwear yang santai dan sedikit nonchalant, koleksi ini tampak seperti sebuah pameran talenta, seakan sebuah audisi untuk menjadi direktur kreatif Lousi Vuitton Homme berikutnya.

(chs)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts