Gerakan Tukar Baju Jadi Solusi Atasi Limbah Fesyen

Menukar baju disebut sama dengan memperpanjang usia pakaian hingga sembilan bulan.

Jakarta, CNN Indonesia

Read More

Di balik kegemaran membeli pakaian baru, terdapat pakaian lama yang terbengkalai karena tidak lagi dipakai.

Padahal, pakaian yang sudah terlupakan begitu saja bisa berujung menjadi sampah yang menumpuk. Perilaku tersebut dinilai tidak ramah lingkungan.

Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan membuat gerakan Tukar Baju. Gerakan ini adalah sebuah inisiasi untuk memperpanjang usia pakaian dengan cara menukarkannya dengan pakaian milik orang lain yang masih layak.

Gerakan ini sudah dijalankan oleh Zero Waste pada tahun 2019 sebagai solusi sampah fesyen dan limbah tekstil. Aksi ini pun diketahui sudah dilakukan 25 kali sejak 2019 di 5 kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Bali, dan Tangerang Selatan.

“Kenapa baju itu potensi sampah terbesar? Karena terlihat secara studi riset yang paling nyata dan gamblang, baju itu paling banyak sampahnya,” terang PR and Project Manager Zero Waste Indonesia Amanda Zahra Marsono dalam acara bincang di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (15/11).

Pada akhirnya, ia menginisiasi sebuah kampanye bertajuk Tukar Baju. Dalam gerakan itu, masyarakat bisa membawa baju mereka untuk ditukarkan dengan baju yang sudah tersedia sebagai salah satu solusinya.

“Jadi, itu salah satu cara yang komunitas kami lakukan untuk memperpanjang usia pakaian,” ujar Amanda. Sebuah studi, lanjutnya, pernah menemukan bahwa menukar baju sama dengan memperpanjang usia pakaian hingga 9 bulan.

Menurutnya, jika semua orang memiliki kesadaran akan keberlanjutan dalam industri fesyen, setidaknya masing-masing orang dapat memanjangkan umur pakaiannya selama 9 bulan lebih lama.

“Itu baru satu kali tukar baju, bagaimana kalau misalkan pergerakan ini semakin aktif ada di Indonesia dan semakin tersebar luas,” katanya.

(del/asr)



[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts