Gara-gara Mimpi Ketinggian, Kami Tukar Posisi di Rumah Tangga

Jakarta, CNN Indonesia

Jika saja mimpi tak perlu terlalu sempurna, mungkin kondisinya tak akan seperti ini. Tak akan ada ‘tukar posisi’ di rumah tangga ini: saya bekerja mencari nafkah, sementara suami saya mengurus anak di rumah.

Read More

“Maaf, ya, sekarang rumah tangga kita bergantung dulu sama kamu.”

Kalimat di atas berkali-kali keluar dari mulut suami saya, Elang. Ia berusaha meminta maaf karena kondisi yang kami hadapi saat itu.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya percaya bahwa Elang sadar betul akan kondisinya. Lewat kalimat yang diucapkannya di atas, mungkin juga ia menyesalinya. Saya hanya berusaha menjadi istri yang suportif.

Toh, pernikahan dan rumah tangga bukan cuma menyoal pembagian siapa yang nyari duit dan siapa yang mengurus hal-hal domestik, bukan? Lebih dari itu, rumah tangga adalah kerja sama.

Kondisi ini kami alami kira-kira selama 2-3 tahun. Selama hampir tiga tahun itu pula, praktis saya lebih sibuk bekerja mengupayakan cicilan demi cicilan terlunasi. Sebagai gantinya, suami saya lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama si kecil.

Kalau mau gampang, bisa saja kami langsung menyalahkan pandemi Covid-19 sebagai biang kerok. Tapi, ternyata masalahnya tak semudah itu, Alfredo!

Kalau dipikir-pikir, apa yang terjadi pada rumah tangga kami terlalu kompleks dan rumit.

Bisa jadi gara-garanya adalah mimpi, baik itu mimpi saya maupun Elang. Kau boleh bilang kalau mimpi kami ketinggian. Sebut saja kami terlalu idealis.

Sejak sebelum menikah, Elang memang sudah bermimpi untuk memiliki usahanya sendiri. Hal itu pula yang membuat saya setuju Elang hanya memberikan uang bulanan Rp500 ribu per bulan di masa-masa awal pernikahan.

Bukan karena Elang pelit dan tak bertanggung jawab, tapi saya berusaha mendukung keinginannya untuk menabung sebagian gajinya demi membangun mimpinya. Toh, saya juga bekerja. Saya tak mau ambil pusing.




Ilustrasi pasangan. (iStock/PeopleImages)

Waktu yang dinanti pun tiba. Elang keluar dari pekerjaannya dan mencoba pelan-pelan merintis usahanya sendiri.

Awalnya baik-baik saja. Tapi, perlahan usaha yang dicoba Elang kian loyo. Salah satunya karena pandemi Covid-19 yang membuat pola bisnis banyak orang pun berubah. Kami pasrah.

Waktu terus berjalan, simpanan uang menipis perlahan. Mau tak mau, hampir sebagian besar kebutuhan rumah tangga kami menjadi tanggungan saya. Belum lagi saat itu kami baru saja dikaruniai seorang bayi cantik.

Tapi, saya tak marah. Saya tetap percaya Elang akan mencari jalan keluar. Toh, faktanya ia memang berusaha mencari formula bisnis yang baru.

Masalahnya, Elang terlalu idealis. Ia punya standar-standar tertentu yang harus dipenuhi dalam berbisnis. Soalnya, bisnis yang ingin ia lakoni berkaitan dengan hal-hal yang dia sukai dan sempat menjadi profesinya selama bertahun-tahun.

Akibatnya, formula bisnis yang dicobanya pun tak juga membuahkan hasil. Alih-alih berhasil, ia malah gagal.

Ya, sudah. Sementara Elang terus mengulik bisnis yang ingin dijalaninya, saya terus sibuk bekerja. Bersyukur, pemasukan saya ‘pas’ untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Lagi pula, saya senang bekerja. Pekerjaan saya juga sangat sesuai dengan passion.

Hampir setiap hari saya pulang malam. Saking sukanya dengan pekerjaan ini, saya rela kerja ekstra. Hmm.. Diam-diam saya juga menyimpan mimpi di sini.

Sementara saya bekerja, Elang mengurus si kecil di rumah. Kami sengaja tak memakai bantuan orang lain. Selain untuk mengurangi pengeluaran, Elang juga tak suka jika si kecil diurus orang lain.

Kalau dipikir-pikir, Elang sebenarnya cekatan betul dalam mengurus anak. Dia bahkan lebih jago daripada saya. Urusan popok saja, lebih banyak Elang yang mengurus.

Sementara saya, kalau boleh dibilang, paling hanya bertemu si kecil pada pagi dan malam hari. Si kecil tumbuh lekat bersama bapaknya.

Oh, ya! Elang juga lebih jago masak dibandingkan saya. Jujur saja, saya memang bukan seorang perempuan yang senang berada di dapur. Jangankan membumbui ikan, menumis pun mulanya saya bingung.

Tapi Elang cekatan urusan itu. Ia rajin membumbui lauk seperti ikan dan ayam, yang kemudian nanti tinggal digoreng dan kami makan bersama. Lauk-lauk yang telah dibumbuinya itu ia masukkan ke dalam kulkas sebagai simpanan.

Hebat, ya, suami saya. Saya, kok, kalah?

Simak cerita selengkapnya di halaman berikutnya..




Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts