Fakta Unik Dhaup Ageng Pakualaman, Ada Sajian Kudapan Langka

Dhaup Ageng Pakualaman bisa dibilang salah satu Royal Wedding-nya Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Simak fakta menarik Dhaup Ageng Pakualaman berikut.

Daftar Isi



Read More

Jakarta, CNN Indonesia

Dhaup Ageng Pakualaman bisa dibilang salah satu Royal Wedding-nya Indonesia, khususnya di DI Yogyakarta. Simak fakta-fakta menarik Dhaup Ageng Pakualaman berikut.

Putra Paku Alam X, BPH Kusumo Kuntonugroho resmi meminang Laily Annisa Kusumastuti dalam sebuah gelaran Hajat Dalem Dhaup Ageng pada 7-11 Januari 2024.

Berikut fakta-fakta menarik seputar Royal Wedding keduanya berikut.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Mahasiswa doktoral dan dokter

BPH Kusumo Kuntonugroho merupakan lulusan Program Sarjana di Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dan Program Master di Biotechnology Department, Graduate School of Engineering, Osaka University.

Saat ini, pria kelahiran 23 Oktober 1996 ini sedang menempuh program Doktoral di Doktoral Course, Applied Microbiology Laboratory, Biotechnology Department, Graduate School of Engineering, Osaka University.

Sementara itu, Laily berprofesi sebagai dokter. Perempuan kelahiran 20 Oktober 1996 ini menyelesaikan Program Sarjana di Departemen Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.

Kemudian, ia melanjutkan Program Pendidikan Profesi Dokter di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.

2. Tema Dhaup Ageng Pakualaman




Dhaup Ageng Pakualaman mengambil tema ‘Manifestasi Kecerdasan Bathara Indra’. (Antara Foto/Media Pool Daup Ageng)

Dhaup Ageng Pakualaman mengambil tema ‘Manifestasi Kecerdasan Bathara Indra’. Bathara Indra adalah seorang cendekiawan yang gemar belajar dan selalu termotivasi meningkatkan kualitas diri.

Tema ini kemudian tertuang dalam wastra batik motif ‘Indra Widagda’ atau Indra yang pandai. Motif terinspirasi dari teks Asthabrata dalam naskah kuno Sestadisuhul (1847).

Teks dan motif batik mengandung harapan agar dapat menjadi penuntun kecerdasan pikir dan hati kedua mempelai dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, semua pihak yang terlibat dalam gelaran bisa meneladan Bathara Indra yang cerdas dalam hal intelektual, emosional dan spiritual.

3. Dimulai dengan Bucalan

Umumnya pernikahan adat Jawa dimulai dengan Pasang Tarub di lokasi pernikahan. Namun dalam rangkaian acara Adat Dhaup Ageng, prosesi dimulai dengan Bucalan (3/1). Bucalan dari kata bahasa Jawa ‘bucal’ artinya membuang.

Prosesi mengandung makna membuang atau menyingkirkan semua rintangan dan gangguan baik gangguan metafisik maupun nyata. Proses ini juga merupakan bentuk dari permintaan izin pada semua makhluk yang ada dan memohon perlindungan Tuhan.

Bucalan dilanjutkan dengan Wilujengan (memohon keselamatan pada Tuhan), Ziarah (kunjungan ke makam leluhur) dan Doa Bersama di sejumlah masjid di kawasan Yogyakarta.

Setelah melalui semua proses, barulah masuk pada proses Pasang tarub dan Majang, pada Minggu (7/1) lalu prosesi-prosesi lain.

4. Penampilan Durbala Singkir

Bhismo dan Laily resmi menjadi pasangan suami-istri pada Rabu Legi, 10 Januari 2024. Setelah prosesi Ijab, kemudian dilaksanakan prosesi Panggih.

Dalam prosesi ini, terdapat penampilan Durbala Singkir sebagai cucuk lampah. Cucuk berarti pemimpin dan lampah berarti perjalanan.

Pemimpin perjalanan ini juga bertugas sebagai tameng mempelai dan menyingkirkan efek negatif yang bisa mengganggu gelaran.

Biasanya, cucuk lampah terdapat penampilan Tari Edan-edanan. Namun Kadipaten Pakualaman menggunakan Durbala Singkir. Tarian ini dimaknai sebagai penyingkiran kekuatan jahat sehingga mendapatkan keselamatan berkat kasih Tuhan.

5. Hidangan khas Kadipaten Pakualaman




Tamu undangan dari Kerajaan-kerajaan Nusantara menghadiri acara Dhaup Ageng resepsi pernikahan BPH Kusumo Kuntonugroho dengan Laily Annisa Kusumastuti di Puro Pakualaman, Yogyakarta, Rabu (10/1/2024). Sekitar 32 raja beserta permaisuri Kerajaan Nusantara hadir dalam Dhaup Ageng Pura Pakualaman. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/agr/aww.Ilustrasi. Hidangan selama gelaran pernikahan memiliki nuansa historis seperti uter-uter tahu. (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)

Hidangan selama gelaran pernikahan memiliki nuansa historis. Menu makanan merupakan menu bersantap penguasa Kadipaten Pakualaman.

Seperti dilaporkan detikJogja, terdapat menu Uter-uter Tahu yang dulu kerap disajikan untuk makan siang Paku Alam VIII. Uter-uter Tahu merupakan masakan berbahan dasar santan, telur dan potongan cabai.

Kemudian ada kudapan Garulina yang mulai langka. Pihak panitia sampai harus memesan secara khusus pada keturunan pembuatnya. Garulina digambarkan mirip lapis legit tapi memiliki lapisan khusus seperti fla.

(els/pua)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts