Cuti Melahirkan Berdampak Positif pada Aktivitas Menyusui

Sejumlah studi menemukan bahwa kebijakan cuti melahirkan berdampak positif terhadap pemberian ASI pada bayi.

Jakarta, CNN Indonesia

Read More

Kebijakan cuti melahirkan berdampak positif terhadap durasi pemberian ASI.

Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Naomi Esthernita menuturkan, kebijakan ini berdampak positif terhadap inisiasi, eksklusivitas, dan durasi menyusui. Salah satunya dibuktikan dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada 2018 lalu.

“[Studi menemukan] wanita yang mendapat tiga bulan cuti melahirkan setidaknya 50 persen lebih mungkin menyusui dalam jangka waktu lebih lama daripada wanita yang kembali bekerja sebelum tiga bulan,” kata Naomi dalam konferensi pers virtual, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, lanjut dia, wanita dengan cuti enam bulan atau lebih 30 persen lebih mungkin untuk mempertahankan menyusui setidaknya selama enam bulan pertama.

Pentingnya cuti melahirkan dan menyusui juga dibuktikan lewat studi pada 2019. Naomi menyebut, studi ini spesifik membahas cuti melahirkan dan ASI eksklusif.

“Ibu dengan cuti melahirkan memiliki prevalensi ASI eksklusif 91 persen lebih tinggi dibandingkan dengan ibu bekerja tanpa cuti melahirkan,” katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan, cuti melahirkan diberikan minimal selama 18 minggu atau sekitar enam bulan. Namun sayangnya, tak banyak negara yang mengikuti saran tersebut.

Di Indonesia, kebijakan cuti melahirkan diberikan selama tiga bulan dan paternity leave atau cuti melahirkan untuk ayah selama dua hari. Cuti melahirkan diatur dalam UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003.

Di antara negara-negara di Asia Tenggara, Vietnam jadi negara dengan cuti melahirkan terlama, yakni 180 hari (sekitar enam bulan). Sementara di dunia, Bulgaria jadi negara yang paling lama memberikan cuti melahirkan selama 13,4 bulan.

Bagi ibu, cuti melahirkan seyogianya menjadi momen perbaikan kondisi fisik dan mental di periode postpartum untuk menurunkan risiko depresi postnatal.

Sementara bagi bayi, cuti melahirkan memungkinkan kesehatan yang lebih baik dengan pemberian ASI yang optimal. ASI dapat mendukung sistem imun bayi, menurunkan risiko mortalitas, dan mendukung perkembangan otak.

Tapi tak cuma pada ibu dan anak, lanjut Naomi, cuti melahirkan juga bisa berdampak pada perusahaan atau pemberi kerja.

“Pemberi kerja juga mendapat manfaat. Bayi lebih sehat sehingga tingkat izin orang tua lebih rendah, pekerja juga lebih antusias kembali bekerja karena merasa mendapat dukungan penuh dalam menyusui,” jelas Naomi.

(els/asr)


[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts