Behel vs Aligner buat Merapikan Gigi, Mana yang Lebih Unggul?

Solusi merapikan gigi tak cuma dengan pemasangan behel. Aligner menjadi metode alternatif bagi Anda yang ingin merapikan gigi. Mana yang lebih baik?

Read More
Daftar Isi



Jakarta, CNN Indonesia

Di zaman kiwari, solusi merapikan gigi tak cuma dengan pemasangan behel. Aligner menjadi metode alternatif bagi Anda yang ingin merapikan gigi.

Namun, jika dibandingkan, mana yang lebih baik di antara behel dan aligner untuk merapikan gigi?

Dokter gigi spesialis ortodontik di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Irwin Lesmono mengatakan, aligner sebenarnya sama saja dengan behel, yakni alat untuk merapikan bentuk gigi yang susunannya berantakan. Hanya saja, aligner terbuat dari plastik transparan dan bisa dicopot pasang oleh penggunanya sendiri.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Bahannya plastik dan lentur. Bentuknya juga disesuaikan dengan kondisi gigi pasien. Jadi sebelum pasang, memang ada programnya dulu untuk melihat kondisi gigi,” kata Irwin saat hadir dalam diskusi media yang diselenggarakan RSPI di Jakarta Selatan, Kamis (25/1).

Beda behel dan aligner

Aligner mungkin belum terlalu populer di tengah masyarakat. Namun, menurut Irwin, penggunaan aligner untuk memperbaiki susunan gigi bisa dibilang lebih nyaman daripada behel.

Berikut ini beberapa perbedaan aligner dan behel yang mungkin bisa jadi pertimbangan saat ingin merapikan gigi yang berantakan.

1. Penggunaan saat makan

Pengguna behel kerap mengeluh sulit makan karena repot saat membersihkan makanan yang menempel di kawat. Tak jarang juga pemasangan kawat bikin gigi jadi ngilu hingga malas makan.

Namun, hal yang sama tak akan ditemukan pada pemasangan aligner. Aligner didesain untuk copot pasang. Sebelum makan, Anda diharus untuk mencopot aligner terlebih dahulu.

“Kalau pakai aligner tidak akan ada cerita sariawan atau malas makan. Karena bisa dicopot pasang,” kata dia.

2. Estetika

Behel akan dengan mudah terlihat saat seseorang tersenyum sambil memperlihatkan gigi. Namun, hal yang sama tak akan terlihat pada para pengguna aligner.

Pasalnya, aligner memiliki bentuk dan warna transparan. Alhasil, pemasangan aligner tak akan mengganggu estetika saat tersenyum.

3. Efektivitas dan hasil

[foto]

Behel terbuat dari metal, dorongannya lebih kencang dan bisa membuat mulut ngilu hingga sakit.

Cara di atas sebenarnya efektif. Hanya saja, penggunaannya sering kali memicu berbagai efek samping, mulai dari sariawan, ngilu, bahkan bracket yang copot hingga tertelan.

Sementara aligner hanya terbuat dari plastik. Alat ini diprogram sesuai gerakan yang dilakukan pasien. Dibuat dengan metode komputerisasi dengan program yang pasti, membuat penggunanya lebih merasa nyaman.

Asal disiplin, aligner bisa memberikan hasil yang maksimal.

4. Prediksi treatment selesai

Penggunaan aligner bisa langsung memprediksi kapan gigi bisa rapi. Pasien juga tidak perlu kontrol satu atau dua bulan sekali ke dokter gigi. Biasanya janji temu hanya dilakukan enam bulan setelah pemasangan untuk melihat progres gigi Anda.

“Tidak perlu sering datang ke dokter gigi. Kalau kawat gigi sebulan sekali, aligner bisa tiga sampai enam bulan. Pasien juga bisa membayangkan giginya kapan akan rapi, bentuknya seperti apa, karena semuanya sudah diprogram,” kata dia.

5. Harga

Behel banyak dipilih karena harganya masih cukup terjangkau. Sementara aligner dibanderol dengan harga yang cukup mahal, tergantung pada program yang dilakukan pada pasien.

Kemungkinan harganya bisa mencapai puluhan juta untuk satu set program.

“Memang [aligner] agak mahal. Tapi untuk harga ini, tiap pasien berbeda, karena ada program yang disesuaikan dengan bentuk giginya,” kata dia.

(tst/asr)

[Gambas:Video CNN]



Sumber: www.cnnindonesia.com

Related posts